Aceh Akan Satukan Ulama Melayu

ACEH BESAR - WACANA mempersatukan ulama Melayu santer mengemukan dalam Seminar Internasional Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Sabtu (30/11) di Asrama Haji Banda Aceh. Wacana ini disambut positif Ketua Perhimpunan Pondok Pesantren di lima Provinsi Thailand Selatan,  Tuan Guru H Abdul Azis Yanya yang didaulat sebagai pemateri mewakili ulama Melayu.
“Gagasan Aceh untuk mempersatukan ulama Melayu merupakan sebuah gagasan yang sangat menarik” kata Abdul Azis.
Menurut Abdul Azis Yanya, persatuan ulama melayu dipandang penting sebagai wadah mempererat silaturahmi dan mendakwahkan ajaran Islam ke berbagai negara Melayu. Terlebih, kata dia, saat ini ada banyak ulama yang tersebar di beberapa negara Melayu seperti Indonesia, Patani (Thailand), Singapura, Malaysia, dan Filipina. Ia juga menjelaskan banyak hal seputar perkembangan pesantren tradisional di Thailand Selatan dan eksistensi akidah ahlul sunnah wal jama’ah.
Sekjend HUDA, Tgk H Faisal Ali mengatakan, untuk mempersatukan ulama Melayu, penting juga dibentuk satu kesepahaman lebih dulu untuk mempersatukan akidah umat Islam dalam mazhab ahlusunnah wal jama’ah sehingga hati umat Islam Melayu dapat bersatu teguh.
“Persatuan yang paling penting adalah persatuan akidah karena dengan bersatunya akidah maka akan bersatu pula hatinya. Kalau akidah ini sudah bersatu maka akidah ini akan mendorong kita untuk bekerja serta memperkuat jama’ah. Jama’ah ini adalah rahmat,” kata ulama muda yang akrab disapa Abu Sibreh ini.
Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Bireuen, Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab dalam kesempatan yang sama menjelaskan seputar pentingnya mengembalikan eksistensi dayah Aceh dalam membangun kehidupan masyarakat dan bernegara pada semua tatanan kehidupan dengan memperkuat idelogi Islam.
Informasi yang diperoleh Serambi, Mubes HUDA berlanjut hingga tadi malam dengan agenda pemilihan Ketua dan Sekjend HUDA yang baru dan diakhiri dengan zikir akbar dan istighasah yang dipusatkan di Dayah Thalibul Huda, Bayu-Lamcot. [serambinews]
Tag : ,

Aliran Sesat Ancam Umat Islam


BANDA ACEH - Mufti Besar Australia, Dr Sheikh Salim Alwan Al-Husainyyi dan Mufti Besar Ukraina, Dr Sheikh Akhmed Tamim mengungkapkan umat Islam saat ini tengah menghadapi ancaman terbesar dari golongan pembawa akidah menyimpang (sesat). Gerakan ini diyakini telah masuk ke institusi-institusi pendidikan setingkat perguruan tinggi yang bertujuan meracuni pikiran generasi muda dengan ajaran-ajaran menyesatkan.

“Hendaknya kita berpegang teguh pada ajaran yang sudah diajarkan ulama-ulama terdahulu dan jangan mudah menerima ajaran baru yang menyesatkan. Terutama bagi mereka yang tengah belajar di universitas karena ajaran sesat ini masuk melalui institusi pendidikan seperti universitas,” kata Sheikh Salim Alwan Al-Husainyyi pada Seminar Internasional yang diselenggarakan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) di Asrama Haji, Banda Aceh, Sabtu (30/1). Seminar yang diikuit sekitar 700 peserta ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Musyawarah Besar (Mubes) Huda ke-2, 29 November-1 Desember 2013.
Sheikh Salim menyebutkan, golongan atau kelompok pembawa akidah menyesatkan ini terus mendakwahkan ajarannya dengan membentuk image negatif ajaran Islam yang sesungguhnya. Menurut Sheikh Salim, bagi umat Islam saat ini diserukan agar terus memperkuat akidah ahlusunnah wal jama’ah serta menjaganya dari segala hal yang merusak eksistensi mazhab ini. Menurutnya, akidah ahlusunnah wal jama’ah yang benar adalah yang berpegang pada Imam Asy’ari dan Abu Mansur Almaturidi.
Meski tidak menyebutkan secara khusus di Aceh, namun merujuk pada fakta beberapa tahun terakhir menunjukkan Aceh menjadi salah satu wilayah yang disasar kelompok berpaham aliran sesat. Sheikh Salim menyebutkan umat Islam saat ini harus waspada dengan gerakan kelompok tersebut yang bertujuan meracuni pikiran generasi muda. Beberapa di antara paham itu, kata Sheikh Salim, adalah; paham yang membenci Nabi Muhammad saw, meyakini Allah menyatu dengan alam, menyerupai Allah sebagai mahkluk, paham yang mengkafirkan seluruh umat Islam karena tidak menjalankan hukum Islam dan beberapa lainnya. Syeikh Salim menyebutkan semua paham-paham ini bertentangan dengan Alquran dan sunnah Rasullullah.
Maka, Sheikh Salim menyerukan kepada seluruh umat Islam di Aceh untuk memperteguh akidah sebagai benteng untuk membendung aliran dan paham menyesatkan itu masuk dalam pikiran umat Islam. Tidak hanya itu, kata Sheikh Salim, para ulama, institusi pendidikan dayah, pesantren, sekolah, masjid dan universitas hingga muazzin di masjid-masjid berkewajiban menyerukan agar umat Islam berakidah dengan akidah ahlusunnah wal jama’ah.
“Banyak kelompok berpaham sesat berkorban untuk mendakwahkan ajaran mereka. Lalu siapa yang akan mendakwahkan akidah ahlusunnah wal jama’ah? Menegakkan kalimat tauhid ‘Laa ilaaha illallah?’ Umat Islam, ulama-ulama, institusi pendidikan dan pemerintah berkewajiban membantu,” ujar Syeikh Salim yang juga Ketua Majelis Ulama Australia.
Pandangan yang hampir senada juga dikemukakan Mufti Besar Ukraina, Dr Sheikh Akhmed Tamim. Menurutnya, sampai saat ini umat Islam, terutama di Eropa tengah dirongrong ke dalam pengaruh kelompok berpaham menyimpang dengan golongan Islam moderat yang bermazhab ahlusunnah wal jama’ah.
Sheikh Akhmed menjelaskan, citra Islam di Eropa kerap digambarkan buruk karena diprovokasi oleh para orientalis. Kondisi ini juga diperparah oleh minimnya guru dan da’i di sana sehingga akidah menyesatkan dan serangan para orientalis yang memperburuk citra Islam menjadi semakin kuat. Banyaknya buku yang dibaca oleh umat Islam yang ditulis oleh kelompok berpaham liberal dan ekstrem juga semakin memperburuk citra Islam di Eropa.
Sheikh Akhmed juga menyerukan umat Islam harus bersatu memperkuat barisan di tengah gencarnya kelompok berpaham menyesatkan mendakwahkan ajaran mereka di tengah-tengah umat Islam.
“Umat Islam harus bersatu. Jangan berpecah belah. Setiap kita harus berkorban, tidak perlu dengan harta tapi persatuan yang kokoh, itu jauh lebih baik,” ujar Syaikh Akhmed yang telah memulai dakwahnya di Ukraina sejak tahun 90-an. [serambinews]
Tag : ,

Aceh Target Pendangkalan Akidah

BANDA ACEH - Ketua Persatuan Mualaf Aceh Sejahtera (PMAS) Gusti Ilham Ramadhan Munthe, membeberkan serangan pendangkalan akidah yang gencar berlangsung di Aceh sejak 10 tahun terakhir. Konflik bersenjata dan bencana tsunami menjadi salah satu faktor yang mendorong gencarnya serangan pendangkalan akidah di Aceh.
“Serangan pendangkalan akidah ke Aceh masuk dengan berbagai cara, menyusup di berbagai organisasi, dan masuk hingga ke pelosok desa. Hingga saat ini Aceh masih menjadi salah satu target,” ungkap Gusti Ilham, pada acara sosialisasi empat pilar kebangsaan, di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke Banda Aceh, Sabtu (30/11).
Kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk FGD bertema “Membentengi Aceh dari Pendangkalan Akidah” ini, diinisiasi oleh Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) bekerja sama dengan MPR RI. Diskusi yang diikuti sekitar seratusan peserta terdiri atas aktivis mahasiswa, santri, ormas Islam, serta para wartawan, dipandu dosen IAIN Ar-Raniry Hasan Basri M Nur.
Gusti Ilham R Munthe, yang hadir sebagai salah satu narasumber, mengaku sebagai salah satu dari sejumlah orang yang dikirim khusus untuk misi mendangkalkan akidah umat Islam di Aceh. Misi mereka, menyasar penduduk rentan dan kesulitan dari segi ekonomi, termasuk mahasiswa berpaham liberal.
Namun, Ilham yang mengaku dikirim ke Aceh pada tahun 2004, malah mendapatkan hidayah di Tanah Serambi Mekkah ini. Tiga tahun setelah menjalankan misi, pria kelahiran Nusa Dua Bali, tahun 1969, dengan nama Gusti Kristian Natalis Munthe, memeluk Islam di Desa Ie Masen, Kecamatan Uleekareng, Banda Aceh, tanggal 12 Juni 2007.
Dalam pemaparannya saat menanggapi pertanyaan peserta diskusi, Ilham kerap menyampaikan data-data yang mencengangkan dan membuat peserta diskusi antara percaya dan tidak. Di antara data-data yang dibeberkan oleh Ilham Munthe adalah terkait sejumlah warga Aceh yang telah keluar dari Islam dan menjadi pemuka agama lain di beberapa daerah di Indonesia.
Namun, Ilham Ramadhan mengingatkan bahwa tidak semua lembaga asing dan nonmuslim di Aceh mengusung misi untuk mendangkalkan akidah. Menceritakan pengalamannya, Ilham mengatakan bahwa aksi pendangkalan akidah ini tidak akan terdeteksi dengan mudah, karena biasanya menyusup melalui lembaga lokal di Aceh. “Selain para pemuda, anak-anak usia dini menjadi salah satu sasaran utama,” tukas Ilham. [serambinews]
Tag : ,

Rizwan: Pedang Berlapis Emas VOC Itu Dijaga Harimau dan Ular

BANDA ACEH -  Identitas pemuda yang menemukan sepasang pedang berlapis emas peninggalan VOC, Rabu (13/11/2013), akhirnya terungkap. Kamis (14/11/2013), pemuda yang menemukan pedang itu kembali datang ke Banda Aceh. Ia mengakui, bernama Rizwan (26), asal Kota Langsa yang selama ini tinggal bersama Muslim, pamannya, di Punge Blangcut, Banda Aceh.

Ditemani rekannya bernama Mansyur dan Muslim, Rizwan bertutur kepada Serambi cerita awal penemuan pedang VOC tersebut. Ia tertarik datang ke lokasi tempat ditemukan ratusan keping koin emas, Senin lalu itu karena Mansyur membawa pulang pecahan teko yang ia temukan di lokasi, Selasa (12/11) siang.
Setelah melihat pecahan teko tersebut, Rizwan minta kepada Mansyur agar membawanya ke lokasi temuan. Permintaan itu dipenuhi Mansyur, lalu mereka pulang. Karena tetap penasaran, akhirnya Rizwan sekitar pukul 23.30 WIB kembali ke Gampong Pande. Kali ini bersama temannya yang lain, bernama Syaiful.
"Saya sempat bertemu warga. Mereka sempat ingatkan saya agar tidak masuk ke lokasi itu, karena menurut mereka kawasan terlarang. Kalaupun masuk, risikonya tanggung sendiri. Tapi saya tetap masuk," kata Rizwan.
Saat Rizwan masuk ke lokasi temuan koin emas, Syaiful justru memutuskan menunggu di permukiman warga. "Pada saat masuk ke tempat itu, saya lihat ada seekor harimau besar yang berjalan di depan saya. Lalu saya jalan lagi, tiba-tiba ada ular besar di pohon. Waktu itulah saya lari dan pulang," kata Rizwan.
Telanjur penasaran, pada Rabu (13/11) sekitar pukul 14.00 WIB, Rizwan mengaku kembali ke lokasi dengan mengajak Mansyur. "Setelah kedua pedang itu saya temukan, saya dipergoki warga. Sehingga saya dibawa ke kantor keuchik. Begitulah ceritanya. Saya pergi, karena waktu itu, saya tak pakai baju, sehingga warga tidak sempat menanyakan siapa nama saya," ungkap Rizwan.
Sementara itu, pantauan Serambi di lokasi Kuala Krueng Geudong, Gampong Pande kemarin, mulai sepi. Bahkan beberapa titik jalur masuk ke areal mulai dijaga ketat oleh polisi dibantu TNI serta pegawai Kantor Kecamatan Kutaraja bersama warga Gampong Pande dan Merduati.
"Kalaupun ada warga yang ke lokasi, hanya karena mereka penasaran ingin melihat tempat itu dan tidak ada yang berniat masuk untuk mencari koin emas atau barang lainnya di tempat itu," kata Camat Kutaraja, Yusnardi SSTP kepada Serambi.
Ia meminta seluruh warga agar senantiasa menyadari bahwa benda-benda dari masa Kesultanan Aceh yang ditemukan di kawasan Kuala Krueng Geudong, merupakan pusaka leluhur yang harus dijaga dan dirawat serta wajib dilestarikan.
Sementara di Kantor Keuchik Gampong Pande, Jalan Tgk Dikandang, tampak sebagian warga menyambangi kantor desa itu. Mereka ingin melihat sepasang pedang VOC yang ditemukan Rizwan, Rabu (13/11).
Untuk mengatasi rasa penasaran warga yang mengunjungi tempat itu, di bagian dinding kantor keuchik akhirnya ditempel dua foto bergambar pedang yang ditemukan. Di foto pertama terlihat pedang sedang dipegang oleh tokoh gampong dan foto satu lagi pedang telah diletakkan di atas sajadah.
Di sana juga ada tulisan di kertas kanton merah, berbunyi "Untuk sementara waktu demi keamanan kita bersama, maka pedang kami amankan dulu. Demikian, untuk dimaklumi bersama. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Tertanda Keuchik Gampong Pande, Amiruddin. [serambinews]
Tag : ,

'Cabul' Terdakwa Mengamuk Usai Mendengar Vonis Hakim

BANDA ACEH - Sepasang suami istri berinisial Is dan Rd dihukum masing-masing 6 tahun penjara. Sedangkan anak lelaki mereka, yakni berinisial RS 8 tahun dan DI 7 tahun penjara. Mereka disidang secara bergiliran, dinilai terbukti mencabuli seorang anak perempuan, sebut saja Bunga (13), antara 2009-2013 di kawasan Kecamatan Tringgadeng, Pidie Jaya.
Saat keluar ruang sidang seusai mendengar vonis majelis hakim dalam sidang terakhir di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Selasa (26/11) siang, DI yang mendapat giliran kedua sidang mengamuk. Begitu juga ibunya RS yang mendapat giliran terakhir. DI menendang meja Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Banda Aceh sambil mengancam. “Kalian ingat itu ya,” tegas DI yang dikawal ketat polisi dan petugas Kejari Banda Aceh.
Sebelumnya, di ruang sidang, DI mengklaim JPU telah berhasil menyidangkan perkara fitnah, meski pengacaranya Ibrahim Marsian SH sudah menasihati terdakwa seperti disampaikan hakim ketua, Syahru Rizal SH bahwa vonis tersebut belum final karena terdakwa masih bisa mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Banda Aceh. “Terdakwa jangan marah-marah kepada jaksa, kami hanya menerima berkas dari polisi untuk disidangkan,” kata seorang JPU, Syarifah Rosnizar SH. “Ya, tetapi kenapa kalian terima berkas itu,” jawab DI lagi.
Kemudian, saat dibawa keluar ruang sidang di bawah pengamanan ketat polisi, terdakwa berupaya melepas diri karena ingin melayani abang korban yang berusaha menendangnya, tetapi tak berhasil dan DI diamankan polisi hingga sampai ke ruang tahanan sementara PN Banda Aceh.
Kemudian, polisi dan petugas Kejari Banda Aceh mengeluarkan Is untuk disidangkan. Lelaki tua ini juga emosi saat para kameramen TV merekam gambarnya, ia berupaya mengejar seorang kameraman, tapi tak berhasil. Sedangkan seusai mendengar vonis majelis hakim, pria ini tampak lebih tegar dibanding dua putranya.
Di sesi akhir, majelis hakim yang sama diketuai Syahru Rizal SH dibantu hakim anggota Said Husen SH dan Akhmad Nakhrowi SH membacakan vonis terhadap perempuan Rd, yaitu 6 tahun penjara. Perempuan ini tampak tenang. Tetapi tanpa diduga ketika di depan meja JPU saat keluar, ia memukul meja tersebut dan memecahkan plakat bertuliskan JPU yang diletakkan di meja itu. JPU Syarifah Rosnizar, Endy Ronaldy SH, dan Maimunah SH spontan bangkit dari kursi. “Gara-gara sandiwara ini kami tersiksa,” teriak Rd sambil menangis.
Kemudian ia digiring ke sel sementara wanita PN. Sesampai di ruang itu, ia juga menangis sambil marah-marah hingga akhirnya mereda dan dibawa dengan mobil tahanan ke Rutan Wanita di Lhoknga, Aceh Besar. Sidang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB berlangsung kira-kira dua jam.
Selain dihukum penjara dikurangi masa penahanan, keempat terdakwa ini juga didenda masing-masing Rp 100 juta atau bisa diganti kurungan tambahan (subsider) tiga bulan kurungan. Khusus RS dihukum penjara lebih berat karena ia saat ini juga sedang menjalani vonis enam tahun penjara atas kasus serupa terhadap korban lain.
Perbuatan mereka mencabuli Bunga secara tak bersamaan terbukti melanggar Pasal 82 UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pengacara Ibrahim menyatakan banding terhadap putusan ini, karena menilai majelis hakim banyak mengabaikan fakta hukum dan pembelaan mereka. Sedangkan tim JPU yang sebelumnya menuntut suami istri ini masing-masing 9 tahun dan DI serta RS masing-masing 10 tahun penjara, kemarin menyatakan pikir-pikir terhadap putusan ini. [serambinews]
Tag : ,

Suzuya Mall Buka Mulai Hari Ini (27-Rabu)

BANDA ACEH - Suzuya makin melebarkan sayapnya dengan membuka superstore kedua, yang dinamakan Suzuya Superstore Mall Banda Aceh. Mall yang berlokasi di eks Terminal Lama, Jalan Teuku Umar, Seutui, Kota Banda Aceh, itu, resmi dibuka pada Rabu (27/11) hari ini.
“Suzuya baru ini dilengkapi dengan fasilitas gedung yang kreatif dan terbaik,” kata General Manager Suzuya Department Store dan Superstore, Mirwazi kepada Serambi, Selasa (26/11).
Dijelaskan, Gedung Suzuya Mall terdiri dari empat lantai dengan luas space 23.902 meter persegi, dan mampu menyerap lebih dari 350 tenaga kerja. Selain itu, areal parkir yang dimiliki mampu menampung sekitar 500 unit sepeda motor, dan sekitar 130 unit mobil.
Berbagai barang kebutuhan masyarakat ada dalam satu gedung tersebut. Mulai dari makanan, produk elektronik, fashion, dan barang-barang kebutuhan lainnya.
Mirwazi mengatakan, lantai I akan diisi dengan berbagai produk, seperti makanan, minuman, kosmetik, elektronik, sayur, buah, bakery dan semua perlengkapan rumah tangga. Sedangkan lantai II untuk produk fashion untuk pria, wanita, anak-anak, mainan, kosmetik, tas dan sepatu.
“Kami berharap semua fasilitas ini akan memberikan kemudahan bagi semua pelanggan Suzuya di Banda Aceh dalam memenuhi semua kebutuhan keluarga,” harapnya.
Selain itu, ditambahkan Mirwazi, untuk menunjang mall kebanggaan warga Banda Aceh ini, pihaknya juga melengkapi mall dengan tenant-tenant terkenal seperti pusat rekreasi keluarga Amazone, Pizza Hut Restaurant, Fountain Café, KFC, dan Mister Baso, yang akan dibuka secara bertahap.
Memeriahkan hari pembukaan Suzuya Mall Banda Aceh, pihak manajemen akan menawarkan promo yang cukup menarik, yaitu diskon belanja mulai dari 20 sampai 75 persen.
“Untuk memeriahkan pembukaan Suzuya Mall Banda Aceh ini kita akan memberikan diskon mulai 20 sampai 75 persen,” ucap Mirwazi.
Sedangkan untuk produk-produk makanan, mereka menyediakan ‘Harga Heboh’ yang berlaku untuk periode 27 November hingga 1 Desember 2013 mendatang. [serambinews]
Tag : ,

Mahasiswa Unsyiah Demo Tolak Wali Nanggroe Aceh (Malik Mahmud), Karena Yang Bersangkutan Berasal Dari Singapura, Bukan Aceh

BANDA ACEH - Belasan Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Unsyiah, Banda Aceh, menyatakan penolakannya terhadap keberadaan Wali Nanggroe (WN) di Aceh, dalam aksi unjuk rasa yang dilancarkan di Bundaran Simpang Lima Banda Aceh, Selasa (26/11/2013 siang. Para demonstran itu mempertanyakan apa arti kehadiran WN di Aceh serta bagi kepentingan siapa keberadaan Wali Nanggroe. Demonstran yang ikut mengusung spanduk dan sejumlah poster itu mulai melancarkan aksinya sekitar pukul 11.45 WIB. Di antara spanduk dan poster yang dibawa itu bertuliskan, 'Wali Nanggroe Untuk Siapa??', 'Jangan belokkan sejarah' serta 'Kami butuh makan, bukan wali'.

Koordinator aksi, Farzian Iqbal yang juga Ketua BEM FT Unsyiah, menyebutkan demo yang mereka lancarkan itu untuk mempertanyakan konsistensi Pemerintah Aceh, sebenarnya untuk apa. "Selama ini Pemerintah Aceh, eksekutif dan legislatif, begitu berambisi untuk bisa melahirkan Wali Nanggroe di Aceh. Oleh karena itu kami ingin mempertanyakan sebenarnya Wali Nanggroe itu untuk siapa? Kalau kenyataannya di satu sisi kehidupan masyarakat Aceh masih morat-marit," ungkap Farzian.

Ia menjelaskan Pemerintah Aceh, tidak lagi menjadi milik rakyat. Melainkan milik kelompok tertentu yang memiliki arah tujuan yang sama, yakni mewujudkan lahirnya WN di Aceh serta kebijakan lain yang berpihak pada kepentingan mereka. "Realita yang ada saat ini cukup miris. Satu sisi masyarakat terhimpit oleh kondisi kemiskinannya, tapi di sisi lain, Pemerintah Aceh begitu terobsesi melahirkan apa yang menjadi tujuan mereka," demikian kata Farzian. [serambinews]
Tag : ,